Charina Prinandita

I feel like I can achieve more, but I have enough with my life right now, so I’m happy.

Charina memulai bisnis Eatlah di tahun 2016 bersama 2 orang partner. Eatlah berawal dari ketika ketiganya berkuliah di Singapore. Salted egg chicken ini menjadi makanan yang mengingatkan mereka dengan rumah karena menurut mereka rasanya sangat cocok dengan lidah orang Indonesia. Jadilah mereka membawa makanan itu ke Indonesia supaya teman-teman di sini bisa merasakan juga kelezatan salted egg chicken. Dan ya, membangun Eatlah adalah salah satu keputusan terbesarnya. 

Sepanjang perjalanannya mengembangkan Eatlah, Charina tentu pernah di posisi sulit sebagai co-founder yang satu-satunya perempuan. “Kedua partner-ku sangat outspoken. Kadang-kadang ketika kamu sebagai perempuan dan dihadapkan dengan meeting bersama klien, yang misalnya laki-laki dan lebih mature dan experienced, aku merasa apakah klien ini akan menganggap aku? Sedangkan aku masih muda, dan 2 co-founders lain lebih prominent. Mereka bisa lebih santai, bro-talk, apakah aku sebagai perempuan akan didengarkan? Tapi untuk overcome challenge ini memang harus datang dai diriku sendiri, aku harus menempatkan diri aku sama seperti mereka sebagai co-founder, bukan sebagai perempuan.”

Sebagai perempuan, Charina pun merasa ada banyak sekali nilai lebih yang bisa membawanya jauh di bidang karier. Contohnya ketika dihadapkan dengan disagreement dengan partner, ia sebagai perempuan mampu untuk lebih tenang dan menengahi, “Sebagai perempuan, kita lebih sensitif, lebih peka, lebih pakai hati, dan nggak semuanya dipikirkan dengan logika. Bisnis ini juga dijalanin pake hati,”

Sesama entrepreneur pasti mengerti bahwa pekerjaan tidak akan ada habisnya, dimana batasan waktu kerja sudah tak lagi ada. Cara terbaik untuk menjaga balance antara pekerjaan dan rumah tangga menurut Charina adalah dengan meluangkan akhir pekan dengan keluarga, “Aku mencoba mensisihkan me time atau family time di hari Sabtu dan Minggu. Meskipun sebagai entrepreneur nggak ada istilah cuti, kamu juga harus tau kapan harus ambil istirahat, take a break dari rutinitas, and just go on holiday.”

Ketika bisnis tak setiap kali berjalan lancar, Charina punya beberapa ‘lucky charm’, atau lebih bisa disebut ‘lucky-persons’ yang bisa membuatnya semangat lagi, “I find comfort in both of my partners karena mereka teman aku juga. Di saat aku lagi down dan ada setback di Eatlah, aku pasti cari mereka untuk diskusi. Jadi memang kami business partners, tetapi kami teman off screen juga jadi kalau ada maslaah, kami biasanya akan keluar dan clear our head. Mereka bener-bener dependable. Aku selalu inget zaman Eatlah masih kecil, we started as a 3-men team; 1 masak, 1 kasir, 1 marketing. Kami struggle dari bawah, dan kini sudah punya 170 karyawan. Itu selalu motivasi aku untuk berdiri lagi. Kita udah bisa accomplished sebanyak ini, kenapa udah di point ini kita ada setback tapi nggak bangkit lagi?”

Bicara soal Eatlah waktu umurnya masih muda, Charina teringat masa-masa dimana kehidupannya hanya berputar di sekitar Eatlah. Bangun pagi-pagi, membeli daging ayam, lantas bergegas ke outlet pertama mereka di Food Plaza, PIK, dan lanjut masak, “Begitu terus sampai akhirnya kami ketemu karyawan. Sekarang memang fokusku sudah berubah, aku sudah berada di management level. Day to day job-nya ketemu klien dan lainnya. I try to schedule my day very evenly, biasanya aku bangun jam 7 pagi, berangkat ke gym jam 7.30. Aku berusaha untuk olahraga karena itu membuatku lebih energize dan positif untuk go on with my day. Seminggu 3 kali aku ke kantor, selain itu full on meeting the whole day. Strategic meeting dengan partner, atau lihat lokasi yang potensial untuk Eatlah. Malamnya aku bertemu lagi dengan keluargaku, biasanya kami malam makan bersama di meja makan. Menurutku, it’s important to dine as a family.”

Melihat rutinitasnya sehari-hari dan menakar kesuksesannya, ketika ditanya arti kebahagiaan, Charina menjawab dengan sangat sederhana seolah semua yang ia ceritakan tadi justru merunut pada hal-hal yang lebih simple, “Orang lain mungkin ada point dimana it’s not enough. Kita selalu mencoba untuk mau yang lebih dari apa yang kita udah punya sekarang. Tapi menurutku, dengan aku udah bisa menjalani bisnis seperti ini, I have enough career life, I have enough family life, dan aku bisa bersama keluargaku sambil menjalankan bisnisku, aku rasa itu definition of happiness. I feel like I can achieve more, but I have enough with my life right now, so I’m happy.”

Sebagai akhir dari perbincangan yang menggugah ini, Charina menutupnya dengan inspiring advice untuk perempuan-perempuan di luar sana yang sedang membangun atau memulai bisnis, “Persistency. Nggak boleh gampang menyerah. Akan sulit untuk memulai sesuatu yang bahkan mungkin orang-orang terdekat kamu nggak itu apa, atau mereka nggak percaya. Aku ingat waktu awal kami memulai Eatlah, banyak banget yang bilang, ‘Mana mungkin sih lo bisa ngeluarin bisnis hanya dengan 1 menu?’ Banyak yang meragukan kami. Tapi kalo kamu persistence, ‘ngotot’, it’s gonna take you far. Dan untuk perempuan khususnya, jangan pernah khawatir suara kamu nggak didengar, perempuan di adakan di situ untuk compliment masculinity-nya laki-laki. Mereka lebih outspoken, lebih powerful, tapi kita ada kelebihan tertentu yangg compliment sisi maskulin itu.”