Siapa sangka, gadis rantau mantan atlet basket asal Purwokerto Advina Ratnaningsih kini telah menuai kariernya sebagai model kenamaan nasional.

“Sayangnya, karena waktu itu aku sekolah di Purwokerto, aku nggak lanjutin karena nggak boleh untuk tinggal di Jakarta sendiri.”

Nama Advina Ratnaningsih amat mudah ditemukan di cover dan spread majalah fashion nasional, juga di panggung-panggung peragaan busana berkelas di Indonesia. Waktu kami temui di FJ Grill siang itu, Advina datang dengan gaya khas model-off-duty nya lengkap dengan tas besar yang berisi perlengkapan modeling untuk show JFFF 2017 malam nanti.

Ayu dan anggun adalah kesan yang kami simpulkan tentangnya. Siapa sangka, Advina adalah atlet basket nasional di daerahnya, “Aku sebenarnya tomboy. Waktu SMA, aku sempat jadi atlet basket yang mewakili Jawa Tengah ke POPDA (Pekan Olahraga Pelajar Daerah) di Palembang.”

Selain basket, rupanya ada satu minat yang ia miliki. “Waktu masih SMP, aku sering baca majalah Gadis, Aneka, dan lain sebagainya. Lalu pas kelas 3 SMP, aku iseng masukin formulir foto untuk ikut Elite Model Look tahun 1999. Masuklah jadi finalis. Dari sana aku mulai tertarik dengan dunia modelling. Sayangnya, karena waktu itu aku sekolah di Purwokerto, aku nggak lanjutin karena nggak boleh untuk tinggal di Jakarta sendiri. Plus, aku masih harus sekolah. Akhirnya aku vakum selama 3 tahun. Begitu masuk kuliah, kebetulan di Universitas Indonesia (Depok), mamaku menyarankan untuk sekolah modeling lagi. Dari situlah, tahun 2004, aku mulai aktif modeling.”

 

“Aku nggak mau mengecewakan kedua orangtuaku yang udah merelakan aku kuliah jauh-jauh di Jakarta.”

Selama merintis karir modelingnya di awal-awal, ada ketakutan yang Advina alami, yaitu takut keasyikan bekerja hingga melupakan kewajiban kuliahnya “Ada kalanya aku lagi semangat-semangatnya kerja, nyari uang, yang sebenarnya untuk biaya kuliahku juga. Aku sempat cuti kuliah 2 tahun yang mana aku menunda skripsiku. Sampai akhirnya aku dapat Surat Peringatan kedua dari kampus yang menyadarkan aku bahwa aku harus segera menyelesaikan kuliah, karena aku nggak mau mengecewakan kedua orangtuaku yang udah merelakan aku kuliah jauh-jauh di Jakarta.”

 

“Aku merasakan susahnya jadi anak rantau yang tinggal di Jakarta sendirian.”

Ditanya tentang perubahan terbesar yang ia alami selama meniti karier, Advina mengaku, “Aku memulai karier sebagai model benar-benar dari 0. Awal-awal aku masih sering naik Kopaja, naik angkot, dan gonta-ganti angkutan umum. Aku merasa kalau naik taksi itu macet dan mahal. Aku merasakan susahnya jadi anak rantau yang tinggal di Jakarta sendirian.”

 

“Dari tulisan atau visual, aku pengen bikin karya.”

Selain modeling, traveling juga merupakan passion-nya. Tak hanya plesir ke tempat-tempat mainstream, Advina justru lebih senang mengeksplor desa-desa di pelosok daerah dan juga mendaki gunung. Dari kegemarannya traveling dan hobinya fotografi, Advina ternyata punya satu keinginan, “Aku pengen membuat karya seperti buku. Terlebih lagi, aku juga suka fotografi. Dari tulisan atau visual, aku pengen bikin karya.”

 

“Mamaku sangat mendukung apa yang aku lakukan.”

Untuk perempuan berkulit sawo matang yang punya moto ‘life is short, enjoy the moment’ ini, Advina menunjuk ibunya sebagai sosok yang menginspirasi. “Walaupun terkadang ada cocok dan nggaknya sama mama, mamaku sangat mendukung apa yang aku lakukan. Dia sangat kuat. Dulu, meskipun kita sedang dalam keadaan yang di bawah banget, tapi dia selalu kuat dan nggak mau ngasih lihat itu ke anak-anaknya.”

Jika nanti ia punya anak perempuan, ia ingin anaknya menjadi lebih dari apa yang dia sudah capai sekarang, “Dia harus lebih kuat agar bisa lebih melakukan sesuatu yang bisa membanggakan dirinya.”

Advina is wearing Matoa tenun top & Pia tenun skirt.

Shoes: Esme (@madebyesme)

Earrings: Rumme (@__rumme)

Location: FJ Grill, Lippo Mall Kemang, Jakarta