Baginya, traveling bukan hanya sekedar untuk menikmati indahnya destinasi yang dituju, bukan juga tentang eskapade untuk keluar dari ingar bingarnya pusat kota. Amalla Vesta, atau yang dikenal lewat akun Instagram @swankytraveler, membuktikan bahwa traveling punya peran besar dalam perjalanan hidupnya. Cerita itu ia bagi kepada Oemah Etnik pekan lalu di tengah-tengah sesi pemotretan koleksi #KartiniOE.

Waktu kami temui di Ruang Boho Sabtu siang, Vesta memasuki studio dengan gaya laid-back khas traveler yang sudah melekat pada dirinya. Dijinjingnya sebuah tas besar dengan beberapa aksesoris di dalamnya seperti tas dan topi rotan, dan beberapa kacamata hitam. Sangat merefleksikan seorang traveler sejati. Ketika kami tawari segelas kopi hangat, ia pun tidak menolak. Obrolan kami pun bergulir.

Kala itu kami membuka obrolan tentang makna seorang Kartini. Cukup berat untuk pembuka, katanya. Tapi kalimat demi kalimat terlontar kasual setelah beberapa saat. “Buat aku, perempuan yang kuat adalah perempuan mandiri & berdaya bagi orang lain, yang bisa menempatkan dirinya di berbagai macam posisi, dan melakukan tugasnya sesuai dengan porsinya masing-masing,” jawab ibu dari 2 orang anak itu.

Menjadi ibu adalah perubahan terbesar yang telah mengubah hidup Vesta. Menjadi ibu mengajarinya untuk menempatkan diri setelah orang lain, setelah keluarga, anak-anak dan suami. Sama sekali bukan hal yang mudah, katanya, “Sebetulnya aku bukan orang yang telaten. Tapi menjadi ibu mengubah banyak sekali hal. Hal-hal buruk yang kita bawa semasa muda, harus di-adjust karena sudah punya anak dan keluarga sendiri.” Ia ingat betul saat melahirkan anak pertamanya di Sydney, Australia, yang jauh dari sanak saudara.

Hal itu pun yang kemudian juga menjadi salah satu pencapaian terbesarnya; menjadi ibu sekaligus wanita karir, terlebih lagi, menjadi ibu atas anak-anak yang berbudi baik dan membanggakan.

“Ketika aku kerja, ketemu banyak orang, ketemu banyak ibu dan anak lain. Aku melihat berbagai macam sifat anak. Ketika melihat ada anak-anak yang bersikap kurang baik, tidak sopan, dan mudah tantrum, disitu aku merasa, ‘I think I did something good and right’ karena Alhamdulillah anak-anakku bisa bersikap sesuai norma-norma yang kami (aku dan suami) didik ke mereka.” baginya, itu pencapaian yang nggak ternilai harganya, “Aku yakin pendidikan di rumah itu penting. Bagaimana orangtua menjadi contoh untuk anak-anaknya. Karena memang dulu aku dididik seperti itu sama orangtuaku, sehingga aku juga mendidik anak-anakku seperti itu yang tentunya juga disesuaikan dengan jaman sekarang.”

Bicara soal karir, seorang Vesta mengawali perjalanannya setelah lulus kuliah dari Teknik Industri Trisakti, dimana setelahnya dia bekerja di salah satu perusahaan Telekomunikasi di Jakarta selama 2 tahun, lanjut ke sebuah perusahaan Marketing Research multinasional selama 6 tahun lebih, lalu menjadi pekerja di perusahaan e-commerce. Vesta merasa ia jatuh ke dalam lubang comfort zone. “Bukan passion-ku, tapi ada nyaman disitu. Nyaman dalam artian, misalnya setiap tanggal 25 udah pasti gajian. Keuangan bisa lebih terjamin dan teratur.” Sempat terpikir untuk mengejar mimpi dan cita-cita, yaitu kecintaannya akan traveling. Tapi untuk meninggalkan “zona serba pasti” itu ternyata tidak mudah.

Akhirnya, di tahun 2010, Vesta memberanikan diri untuk resign dari kantor setelah sekian lama bekerja dengan segala kepastian. “Aku memutuskan untuk berhenti kerja kantoran dan menekuni profesi sebagai travel consultant dan traveler writer & influencer. Sampai saat ini, berarti sudah tujuh tahun. Lalu, tahun 2014 aku diminta untuk bergabung dengan Garuda Indonesia untuk handle bagian Digital Marketing Communications. Kenapa saya mau kembali bekerja kantoran, karena saya melihat bekerja di Garuda Indonesia masih memiliki benang merah kuat terhadap passion saya di dunia traveling.” Kecintaannya akan pekerjaannya sangat tercermin dari gelak tawa dan bias mata yang terpancar. Passionate, begitu kami menggambarkannya. Tak heran kalau quotes favorit Vesta adalah ‘Always work with your heart’. Oemah Etnik pun percaya bahwa apapun yang dilakukan dengan sepenuh hati dan sepenuh tubuh, pasti akan menghasilkan result yang terbaik.

Ketika ditanya apabila sebagai seorang perempuan, diberi kesempatan dan kemampuan untuk mensejahterakan perempuan Indonesia, apa yang akan ia lakukan, Vesta pun menjawab, “Cita-citaku ‘tuh kalo untuk urusan Indonesia pingin jadi Menteri Pariwisata atau Tourism Consultant,” ucapnya sambil tertawa kecil. “Ada banyak sekali potensi yang bisa digali dari sisi pariwisata, apalagi untuk perempuan. Aku ingin sekali menjadi jembatan dan memberi wadah itu untuk mensejahterakan perempuan di seluruh Indonesia agar lebih berdaya.” Menurutnya, peran wanita sangatlah penting sehingga pasti bisa membawa dan mengajak banyak wanita untuk terjun langsung berkontribusi untuk negara.

Sebagai penutup, “Jadi perempuan itu nggak boleh lemah. Yang kedua juga harus bisa menjaga dan menempatkan diri sesuai dimana dia berada”, adalah pesan yang selalu disampaikan kepada putrinya. Vesta menambahkan, “Perempuan itu harus mandiri dalam segala hal, termasuk dalam urusan financial. If something happened, kita tetap bisa berdaya. Berdaya untuk siapa? Yang terpenting adalah buat kita sendiri & keluarga, juga berdaya bagi sesama.” Pesan dari sang bunda yang akan terus ia sampaikan turun temurun ke generasi selanjutnya.