Penyiar radio kenamaan nasional Nadya Julia menamakan sosok Oprah Winfrey sebagai idola perempuan yang paling ia sanjung.

“Aku belajar banget dari Oprah Winfrey.”

“Dari kecil aku sudah sering nonton acara The Oprah. Aku selalu berpikir, ‘Kok bisa sih dia yang bisa menguak cerita dari angle-angle yang bahkan orang-orang lain nggak mau atau nggak berani untuk omongin. Dan juga, kok orang-orang bisa seterbuka itu sama Oprah,’ Aku belajar banget dari dia. Sampai sekarang pun masih sering nontonin wawancara-wawancaranya karena berguna banget buat kerjaan aku.”

 

Gig pertamaku adalah waktu SMA, aku nge-MC di acara sekolah dan nggak dibayar, cuma dikasih pisang molen 1 box.”

Sudah bekerja sejak umur 16 tahun, Nadya praktis sudah keluar dari zona nyamannya sedari SMP. Teringat saat berumur 15 tahun, Nadya ingin punya uang jajan sendiri yang ia capai dengan bekerja selama 30 hari sebagai SPG di acara Pekan Raya Jakarta, Kemayoran. “Aku sampai nekat ngekos di dekat PRJ untuk bisa kerja sebagai SPG,” ceritanya. “Pas lagi kerja, aku ngeliat ada yang MC, kok seru yaa. Tiba-tiba aja aku kepengen jadi MC karena intinya adalah ngobrol dan ketemu banyak orang. Dari situ aku beranikan diri untuk mulai jadi MC. Gig pertamaku adalah waktu SMA, aku nge-MC di acara sekolah dan nggak dibayar, cuma dikasih pisang molen 1 box.”

Sehabis lulus SMA, Nadya mulai memantapkan diri menjadi penyiar. Ia mulai mengirimkan voice sample ke radio-radio. Tak perlu menunggu lama, ia pun diterima di salah satu radio yang range pendengarnya agak dewasa, yaitu 25 sampai 30 tahun. “Sebenarnya, pada saat itu aku merasa nggak nyaman karena aku sendiri masih umur 19 tahun dan harus membahas tentang pernikahan, rumah tangga, dan lain sebagainya. Tapi aku bertahan disana selama 2 tahun untuk belajar. Barulah kemudian aku pindah ke radio Prambors,”

 

“Yang terpenting adalah harus tetap jadi diri sendiri.”

Bicara soal lika-liku pekerjaan, Nadya mengaku salah satu ketakutannya sebagai penyiar atau MC adalah rasa percaya diri. “Kalau jadi penyiar atau MC itu harus ada satu karakter yang merepresentasikan diri kita. Sedangkan aku merasa, ‘Kayaknya aku biasa-biasa aja deh, nggak ada yang spesial, nggak ada yang bisa diinget.’ Tapi ternyata, semenjak bergabung di Prambors, karakter itu bisa dibentuk. Aku jadi sadar bahwa yang terpenting adalah harus tetap jadi diri sendiri.”

 

“Sekeras apapun kita bekerja, harus meluangkan waktu untuk keluarga.”

Sudah gila kerja sejak umur 16 tahun, Nadya sempat merasa tersentil oleh satu tragedi yang menimpa keluarganya. “Aku sudah kerja sejak umur 16 tahun. Dari dulu yang dipikirin hanya kerja dan kerja terus, sampai-sampai sering mengesampingkan keluarga. Tahun lalu, ada salah satu saudara sepupuku yang meninggal dunia. Momen itu langsung merubah mindset-ku bahwa sekeras apapun kita bekerja, harus meluangkan waktu untuk keluarga. Nggak boleh mikirin diri sendiri, pacaran, atau senang-senang saja; minimal weekend harus sempetin bareng keluarga.”

 

“Mulailah dari hal-hal kecil.”

Meskipun sudah menjadi perempuan mandiri sejak kecil, Nadya berharap bisa lebih kuat dan independen lagi kedepannya. Ia kini pun sering mengisi waktunya dengan menulis blog atau sajak pendek yang menurutnya sebuah investasi, “Kenapa investasi, karena saat mood-ku lagi positif, aku bisa nulis banyak tulisan atau quotes yang juga positif dan memotivasi. Jadi ketika aku sedang down, aku bisa baca lagi postingan itu dan aku jadi keingat lagi bahwa aku pernah dititik yang baik, bahwa aku bisa melaluinya.”

Obrolan siang itu ditutup dengan satu pesan dari Nadya tentang pentingnya memulai, “Aku selalu punya pikiran, misalnya untuk memulai Youtube channel, ‘Duh, bisa commit nggak yaa?’ Tapi menurutku, itu urusan belakangan. Yang terpentingnya adalah memulainya. Mulai aja dari hal-hal yang kecil. Dan jangan lupa untuk selalu belajar.”

Nadya is wearing Trea tenun top & Baya tenun pants.

Shoes: Esme (@madebyesme)

Earrings: Rumme (@__rumme)

Location: FJ Grill, Lippo Mall Kemang, Jakarta