To Petty Kaligis, make-up is one thing she enjoy the most since high school. But never a day she imagined something she love doing turned into a fulfilling career. “Nggak pernah terpikirkan untuk jadi make-up artist. Dulu cita-citaku cuma jadi pramugari atau sekretaris.”

Kebetulan aku pas resepsi memang sudah make-up sendiri!

Awalnya, Petty Kaligis tidak tahu bahwa profesi Makeup Artist (MUA) ada. “Dulu aku kerja di kantor sebagai sekretaris. Aku betah kerja disana. Sampai akhirnya aku ketemu sama suamiku; kami pacaran selama 1 bulan, lalu menikah. Dan punya anak.” Selama 9 bulan, ia bekerja sambil mengasuh anak. Tetapi tidak lama kemudian, Chloe, anaknya yang kini berusia 6 tahun, sakit. “Dari suami memang nggak melarang aku kerja. Tapi aku jadi menyalahkan diri aku sendiri, ‘Kok gue egois banget ya. Masih pengen kerja sedangkan anak gue sakit.’ Akhirnya aku memutuskan untuk resign. Setelah resign, aku di rumah aja dan mulai cari-cari kegiatan. One day, temanku lamaran dan aku menawarkan untuk make up-in dia. Kebetulan aku pas resepsi memang sudah make-up sendiri!” ceritanya.

Dari sanalah semuanya berawal. Dari mulut ke mulut, pamor Petty Kaligis sebagai MUA semakin terdengar. Saat itu pula, kira-kira 5 tahun yang lalu, sosial media Instagram sedang naik daun. “Jadi aku suka upload-upload hasil make up di Instagram,”

Mengaku self-taught alias belajar sendiri, Petty Kaligis memang sudah memiliki passion di bidang make up sejak SMA. “Dari SMA aku memang suka make up. Kalau ke sekolah, aku suka pakai lipstick yang aku usap-usap ke pipi supaya warna pipiku merona. Sesekali juga sering pakai maskara,” Hingga akhirnya memutuskan untuk jadi MUA pun, Petty Kaligis mengaku tidak pernah kursus atau sekolah make up khusus. Ia yang lulusan sekolah khusus sekretaris mengaku hanya bermodalkan ‘Beauty Class’ di sekolah dan video-video Youtube sebagai gurunya.

 

 “Aku nggak punya siapa-siapa untuk berguru. Saat itu belum semudah sekarang.”

Bicara tentang self-taught, obrolan kami bergulir hingga penuturan Petty Kaligis tentang momen paling membanggakan dalam hidupnya. “Aku bukan siapa-siapa. Dalam artian, saat aku memulai karier, aku nggak kenal siapa-siapa di dunia MUA ini. Banyak orang yang kariernya memuncak karena dia seseorang, atau karena koneksi, atau karena dia belajar dari siapa. Sedangkan aku benar-benar melaluinya sendiri. Belajar sendiri, cari tahu sendiri. Aku nggak punya siapa-siapa untuk berguru. Saat itu belum semudah sekarang. Tapi, beruntungnya, aku punya suamiku yang selalu mendukung aku 100%. Buat sampe ke sini, ada sudah melalui banyak momen dimana aku merasa, ‘Nggak ah, gue capek, udah gak mau lagi.’ Di momen-momen itulah peran suamiku paling terasa karena yang selalu mendukung dan menyemangati aku.”

 

Job-ku yang lain pun lebih banyak di weekend, jadinya urusan pribadi terkadang harus dikorbankan.”

Di tengah kesibukannya sebagai profesional MUA, Petty mengaku salah satu tantangan terbesar yang ia rasakan adalah banyaknya momen yang hilang karena tuntutannya yang harus bekerja lebih pagi dari orang kebanyakan, dan lebih sering di akhir pekan. “Kalau wedding, sudah pasti di weekend dan make up dimulai kadang dari jam 2 pagi. Job-ku yang lain pun lebih banyak di weekend, jadinya urusan pribadi terkadang harus dikorbankan.”

Sebagai MUA perempuan di Indonesia, Petty merasa memiliki keuntungan yang lebih ketimbang MUA laki-laki, “Karena Indonesia negara yang mayoritas muslim, biasanya sebelum di make up, pengantin harus solat dulu dan nggak boleh disentuh sama laki-laki. Disitulah keuntungan MUA perempuan terasa. Dan beberapa orangtua, terutama ayah, lebih nyaman kalau anaknya di-make up sama perempuan,” terangnya. Hanya saja, kendala sebagai MUA perempuan terkadang tidak sefleksibel MUA laki-laki. Ada batasan-batasan seperti sudah berkeluarga atau harus mengurus anak, yang membuatnya harus pintar-pintar mengatur jadwal dan banyaknya job yang diambil dalam satu hari, atau satu pekan.

 

“Jalan untuk sukses nggak selalu akademis.”

Chloe, anak semata wayang Petty Kaligis yang punya banyak sifat turunan dari ibunya, tumbuh menjadi anak perempuan berjiwa free spirit dan menyukai seni. Petty mengatakan bahwa ia membebaskan Chloe menjadi apa yang ia mau. Menurutnya, anak tidak perlu pintar karena yang paling utama adalah akhlak. “Jalan untuk sukses nggak selalu akademis. Jadi anak baik lebih susah daripada anak pinter. Untuk jadi pintar, anak bisa belajar, bisa les. Kalau untuk jadi baik? Harus les dimana?”

“Jangan pernah berhenti belajar.”

Terakhir, Petty membagikan quote favorit yang selalu ia pegang sedari awal ia mendirikan kariernya. Dimana dunia ini berputar dan semua orang akan merasakan berada di atas dan di bawah, “Hanya yang bisa mempertahankan kualitasnya yang bisa bertahan. Makanya ayah mertuaku selalu bilang, ‘Jangan pernah berhenti belajar,’.”

Petty Kaligis is wearing Damar Tenun Dress.

Shoes: Esme (@madebyesme)

Earrings: Rumme (@__rumme)

Location: FJ Grill Kemang Village, Jakarta