Ibaratnya seperti mimpi, tiba-tiba bangun sudah seperti ini.”

Darah fashion sepertinya sudah mengalir turun temurun dari sosok sang nenek yang Rahajeng Puspitasari namakan sebagai idolanya saat ini. “Aku selalu dengar cerita tentang beliau dari kakek, ibu, dan tante-tanteku. Cerita tentang perjuangannya merantau dari Padang ke Jakarta, berbisnis kain sutera untuk menghidupi ketujuh anaknya. Sampai akhirnya beliau wafat sekitar tujuh belas tahun yang lalu. Sedihnya, aku nggak bisa kenal dengan beliau ketika aku sudah dewasa.”

‘Kuat berjuang’ adalah dua kata yang menggambarkan perempuan yang sudah berkecimpung di dunia fashion selama 7 tahun ini. Ajeng, begitu ia akrab disapa, mengaku perjalanannya berkarir bagaikan mimpi, “Ibarat mimpi, tiba-tiba bangun sudah seperti ini!”

“Tujuh tahun bekerja di dunia fashion penuh trial and error.”

Ia memulai karirnya sebagai Sales Assistant di salah satu perusahaan retail fashion di Jakarta. Selama dua setengah tahun bekerja di sana, ia sempat mencicipi berbagai posisi, mulai dari asisten buyer sampai divisi marketing. “Karena aku kerja di retail, jadi kenal sama orang-orang majalah, terutama para stylist yang sering pinjam ke toko.” Sampai akhirnya tawaran untuk menjadi asisten fashion stylist datang dan tanpa pikir panjang, ia terima. “Dari situ, aku ketemu Glenn Prasetya (fotografer) dan asistennya. Muncullah ide untuk test shoot pertama kali.” Siapa sangka, test shoot perdananya itu adalah batu loncatan yang membawanya hingga kini menjadi tak hanya fashion stylist, tetapi juga fashion editor majalah Dew, serta fashion director brand perhiasan lokal, Tam Illi. “Tujuh tahun bekerja di dunia fashion penuh trial and error. Aku belajar banyak dari pengalaman, struggling-nya kirim-kirim surat ke brand, bikin konsep, pinjam dan balikin baju. Tapi seru, sih! Makin kesini, semakin mengerucut juga apa yang aku mau.”

“Pekerjaanku benar-benar mendewasakanku,”

Menjadi lebih mandiri dan kuat adalah hal paling signifikan yang Ajeng rasakan perubahannya dari awal ia berkarir hingga kini. Bertemu dengan karakter yang beraneka ragam membuatnya semakin matang sebagai individu. “Pekerjaanku benar-benar mendewasakanku,” tuturnya. “Dari umur 18 tahun, aku kerja sendiri dan sudah nggak bergantung pada orangtua. Sekarang, aku bangga sudah bisa membantu mereka.”

Di era yang serba-modern dan genderless ini, Ajeng merasa sudah tidak ada lagi gap di bidang pekerjaan antara perempuan dan laki-laki. Keduanya mampu mengerjakan pekerjaan di bidang lawan jenisnya. Di dunia fashion styling pun demikian, “Harus aku akui, justru stylist laki-laki sekarang karyanya keren-keren banget,” katanya semangat, “sebagai stylist perempuan, mungkin hanya satu kelemahan kami; tenaga kami tidak sekuat laki-laki. Laki-laki ngangkat paper bag 20 kantong-pun tidak masalah!” lanjutnya sambil tertawa.

Sedangkan untuk kelebihannya sebagai perempuan, Ajeng menjawab bahwa ‘caring’ adalah satu sifat menguntungkan yang ada di diri perempuan. Bisa lebih telaten menjaga dan merawat baju sangatlah penting untuk pekerjaannya sebagai fashion stylist. Ia menambahkan, “Aku juga orangnya perasa banget. Dengerin lagu pun bisa nangis! Mungkin karena aku selalu memvisualisasikan di otak apa yang aku dengar atau lihat. Kadang-kadang suka mikir, ‘Kayaknya kalau disambungin ke lagu ini cocok, deh, ambience-nya!’,” ia berhenti sejenak sambil memutar kedua bola matanya, “Kayaknya aku pengen jadi art director deh!”

“Jangan pernah takut untuk melawan rasa takut, karena lo nggak akan tahu limit lo dimana sampai lo melewati itu.”

Di atas langit, masih ada langit. Di bawah sumur, masih ada inti bumi. Begitulah Ajeng selalu memposisikan dirinya. Menurutnya, jika sekali tercebur ke dalam sumur, jangan hanya berenang di permukaannya saja; selami lebih dalam, cari inti sumurnya. “Aku pengen ngasih liat ke semua orang bahwa, ‘Gue tuh kayak gini dari dulu untuk jadi sesuatu, dan sampai sekarang gue belum merasa jadi sesuatu,’. Aku masih harus mencari si ‘inti bumi’ itu. Kerja lebih keras lagi.” Dalam usahanya mencapai cita-cita tersebut, Ajeng selalu berpegang teguh pada satu keyakinan, “Kita harus kuat dan jangan gampang mengeluh. Jangan pernah takut untuk melawan rasa takut, karena lo nggak akan tahu limit lo dimana sampai lo melewati itu.”

Obrolan siang kami pun ditutup dengan satu quotes sederhana yang membuat kami mengangguk sepakat pada perempuan Pisces itu, “Don’t be afraid of being different, be afraid of being the same as everyone else.”

 

Rahajeng is wearing Gia Tenun Outer and tenun kemben.

Earrings: Rumme

Shoes: Esme

Location: Louie Coffee, Jakarta