Shellen Halim

My employee inspires me.


Tahun 2014, Shellen Halim bersama seorang partner membangun sebuah bisnis yang pada saat itu masih sulit untuk diwujudkan. 

“Tantangan terbesar waktu membangun Dandelion di awal-awal adalah the lack of knowledge and supply in Indonesia karena semuanya impor. Kami terpaksa mencari ilmu di luar negeri seperti Singapore, Jepang, Hongkong, dan beberapa negara lainnya. Dulu, karena nggak banyak salon spesialis eyelash, nails, dan waxing, supply-nya pun terbatas dan produk-produk yang bagus pun hampir tidak ada. Apalagi institusi yang bisa mengejarkan teknik yang benar; susah sekali carinya. Jadilah kami belajar ke luar negeri.” Shellen pulalah yang akhirnya membawa ilmu itu ke Indonesia ketika ia membangun Dandelion Waxing, Nail, Lash salon. 

Meskipun memiliki background marketing, Shellen mengepalai departemen training dan quality control. Sepanjang perjalanannya hingga 5 tahun Dandelion telah berdiri, Shellen merasakan banyak keuntungan yang ia rasakan sebagai wanita yang menjalankan bisnis ini. “Attention to details and care. Aku ngerasa kalau ini dilakukan sama laki-laki, nggak mungkin bisa karena harus sabar, telaten, dan teliti. Dan itu yang agak kurang dari personality of most men.. mereka nggak se-attentive itu untuk detail.”

Antara kehidupan berkeluarga dan karier, Shellen sendiri masih merasa perlu banyak belajar untuk menyeimbangkan keduanya. Menurutnya, agar keduanya berjalan selaras cukup sulit, “Susah banget, tapi memang harus tegas. Kalau sampai rumah, you stop working dan prioritaskan mana yang paling urgent. Tapi ada 1 kunci yang aku pelajari selama bekerja di start-up; learn to delegate and to trust other people. Intinya, harus berani let go dan percaya ke orang lain.”

Ketika ditanya apa keputusan terbesar yang pernah ia ambil selama menjalankan bisnis Dandelion, Shellen menjawab, “Expansion. Sebetulnya keputusan besar selalu ada di setiap langkah yang kita ambil. But the biggest one was when we decided to expand the business. That means, kita harus semakin committed. Harus mulai mempersiapkan semuanya dan mengeluarkan capital lagi. So, yeah, expansion was the biggest decision.”

Saat dihadapkan dengan set back, tim Dandelion-lah yang menurut Shellen memotivasinya untuk kembali bangkit. “I’ve seen so many progress in their life. They’re now have better living, fix job, and fix income. Itu memotivasiku untuk keep on going. Rasanya senang sekali melihat kita berguna buat orang lain dan bisa berkembang menjadi lebih baik.”

Kalau ingin mencontek daily routine seorang Shellen, tidak sulit. Menurutnya, ia juga tidak terlalu ‘ngoyo’. “I usually wake up at 7.30, then I’ll shower my son, have breakfast, and go to work. At Dandelion, I always take care some of the trainings, and the quality of the skills. Aku juga selalu sempetin untuk ngopi untuk me-time sejenak supaya nggak bosan. Sore pulang untuk kembali bersama anak dan suami sampai malam.” Balance is key.

Lalu apa arti kebahagiaan bagi Shellen? “Happiness is when you feel content with what you have right then. Menurutku nggak ada definisi ‘saklek’. Happiness is to appreciate and be thankful on whatever is going on in your life. Bersyukur. Itu yang bikin aku happy.”

Terakhir, teruntuk perempuan-perempuan di luar yang baru akan memulai, atau ingin menjadi membuka usaha, Shellen berbagi tips yang sederhana tetapi perlu diingat selalu, “Keep on going. It’s gonna be very hard at the beginning. Tapi percayalah, kalau udah dijalani pasti akan lebih mudah.”