“Kuliah selama 4 tahun di London benar-benar menempa aku jadi perempuan yang mandiri.”

Tempaan kota New York telah membentuk kepribadian Shirley Gouw menjadi sosok perempuan yang tangguh dan pantang menyerah.

Terlahir di keluarga yang akrab di bidang desain, membuat Shirley kecil tak asing dengan dunia tersebut. Masa kecil banyak ia habiskan di toko lampu milik orangtuanya, “Kalau weekend, aku dan adikku harus bantu mereka di toko. Untuk ngisi kejenuhan, kami biasanya menggambar. Bermodalkan pensil dan kertas, kami duduk di tangga dan menghabiskan waktu untuk gambar-gambar.” Atas dukungan penuh kedua orangtuanya lah, Shirley akhirnya memantapkan hati untuk menjadi seorang interior desainer.

“Saat umurku 17 tahun, aku kuliah di London. Aku tinggal di sana berdua dengan adikku yang masih umur 15 tahun. Kebayang, aku harus menjaga dia, memasak, mencuci baju, sembari aku kuliah,” ceritanya, “Kuliah selama 4 tahun di London benar-benar menempa aku jadi perempuan yang mandiri.”

Shirley lalu melanjutkan studinya ke New York. Adalah keputusan yang paling tepat yang pernah ia ambil; menurutnya, jika bukan karena New York, ia takkan jadi pribadi yang sekuat dan se-termotifasi sekarang.

Don’t just be a brick in a wall. Try to be different.”

“Waktu aku di New York, ada majalah arsitektur yang selalu aku baca, yaitu Architecture Digest dimana dia memfitur 100 orang terbaik di bidang interior desain. Di artikelnya, tersedia nomor telepon, email, dan faximile dari orang-orang tersebut. Ada masanya dimana aku mengirimkan email kepada orang-orang yang aku benar-benar kagumi, meminta posisi magang di kantor mereka,” sampai akhirnya seorang interior desainer ternama Victora Hagan menerima Shirley untuk internship di kantornya, “Dari cuma ngambil sample, ngeprint, fotokopi, lalu bisa gambar pakai autocad meskipun sedikit-sedikit, nyatetin notes saat meeting, sampai pengalaman paling tough yaitu jalan kaki sepanjang 10 blok sambil bawa sample di tangan kanan dan kiri, di tengah badai salju.”

Kerasnya kompetisi di New York membuka mata Shirley bahwa ia harus berbeda dengan orang pada umumnya. Bekerja harus lebih ekstra, “If you cannot stand out in the crowd, then you will be nobody. You just get a paycheck, and you cannot move up your career. Don’t just be a brick in a wall. Try to be different.”

Hal-hal itu ia bawa hingga kini bekerja di Jakarta. Sehari-hari, Shirley mengerjakan proyek berupa residensial, apartment, dan rumah tinggal, “Aku ini angker banget kalau di proyek. Because I need to get the job done!” katanya, “Makanya aku selalu datang ke proyek untuk mengecek progres, memastikan semuanya berjalan sesuai seperti yang aku mau. Sampling, sampling, dan sampling terus. Karena deadline sangat ketat, I have no room for error. Makanya aku sangat teliti dan detail-oriented.”

“Kekurangan kita sebagai interior desainer perempuan terkadang suka dianggap remeh di proyek.”

Sebagai seorang perempuan, Shirley mengaku di pekerjannya sebagai interior desainer pun memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya adalah interior desainer perempuan lebih detail dan mengerti kebutuhan pemilik rumah, “Misalnya untuk desain dapur, aku biasanya memberikan stop kontak lebih banyak, karena aku tahu ibu-ibu pasti butuh untuk blender, microwave dan lainnya sebagainya. Begitu juga kitchen applience, biasanya aku tanya, pemilik rumah suka masak nggak? Kalau iya, pasti dia akan butuh lebih banyak panci, alat masak, dan lain sebagainya. Itu aku siapkan satu kabinet khusus, jadi nggak berantakan di kitchen counter. Nah, biasanya, laki-laki nggak kepikiran sampai situ,”

Sedangkan kekurangan sebagai perempuan di bidang interior desain adalah terkadang ia merasa dianggap remeh di proyek, “Karena di proyek itu kebanyakan laki-laki, agak sulit buat mereka untuk menerima perintah dari seorang perempuan, apalagi yang terkadang lebih muda.” Salah satu cara yang ia sering pakai untuk menyiasatinya adalah dengan menjadi lebih tegas. “Kalau urusan pekerjaan, aku sangat tegas, singkat, dan jelas. Nggak bisa kemayu.”

“If you are not happy with something, do something about it. Don’t just accept it.”

Shirley lalu bercerita tentang perempuan-perempuan yang menginspirasinya selama hidup, salah satunya adalah Annabelle Selldorf, “She’s someone I work with in New York. She’s 100% dedicated to work. She always think outside the box, and very systematic. I love how she organizes. Salah satu yang aku terapkan sampai sekarang adalah, ‘If you are not happy with something, do something about it. Don’t just accept it.’

“Setinggi-tingginya pencapaianku dalam segi karier, tidak ada yang bisa menyamakan pencapaianku menjadi seorang ibu.”

Sudah bergelut di bidang desain interior selama belasan tahun, Shirley mengaku pencapaian terbesarnya justru bukan di bidang karier. “Setinggi-tingginya pencapaianku dalam segi karier, tidak ada yang bisa menyamakan pencapaianku menjadi seorang ibu. Benar-benar beda banget rasanya,” ceritanya penuh kesan, “Proses lahiranku 27 jam. Dari awal aku sudah niat pengen natural. Tapi, setelah berjuang 24 jam, dokter menyatakan bahwa tidak bisa dan akhirnya dilakukanlah emergency c-section. Setelah lahiran, anakku tidur sama aku selama 3 hari di ranjang tempat tidurku di rumah sakit. Makanya sampai sekarang, kami seperti kembar siam,”

Shirley ingin menanamkan prinsip-prinsip hidupnya kepada anak semata wayangnya itu sejak dini. Ia ingin memperlihatkan bahwa menjadi seorang perempuan harus mau berjuang, “Aku nggak mau dia tumbuh jadi anak yang manja, and take everything for granted. Aku mau dia jadi pejuang.”

Shirley is wearing Merani tenun top and Kenari tenun pants. | Shoes by Esme